Ketapang ( sorot10)— Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menandatangani kesepakatan bersama tentang kerja sama pengembangan masyarakat dan pelindungan lingkungan di Kabupaten Ketapang.
Bupati Ketapang, bersama Wakil Bupati, hadir langsung dalam kegiatan ini sebagai wujud keseriusan Pemerintah Daerah dalam memperkuat sinergi dan kolaborasi lintas sektor demi pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Bupati menyampaikan apresiasi kepada YIARI yang selama ini tidak hanya berperan dalam pelindungan satwa liar, khususnya orangutan, tetapi juga telah aktif memberikan bimbingan dan pelatihan kepada masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“YIARI memiliki jaringan yang sangat luas, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Bahkan di tingkat internasional, YIARI dikenal sebagai lembaga yang fokus pada konservasi orangutan. Ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus peluang bagi Ketapang untuk memperluas kerja sama dan memperkenalkan potensi lingkungan kita ke dunia.”
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan penghargaan kepada Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, yang juga merupakan Penasehat Utama Menteri Kehutanan, atas dukungan dan perhatian terhadap pengelolaan lingkungan di Ketapang.
Lebih lanjut, Bupati menyoroti pentingnya pemanfaatan konsesi yang belum aktif untuk pengembangan tanaman enau, mengingat potensi Gula Enau dari Desa Gerai, Kecamatan Simpang Dua yang sudah dikenal luas sebagai satu-satunya wilayah di Ketapang yang mengelola produksi gula enau secara tradisional.
Sekitar tiga bulan lalu, saya juga telah menginstruksikan seluruh kepala desa untuk mendata aset-aset desa dan pemerintah yang berada dalam kawasan hutan, guna diusulkan menjadi Areal Penggunaan Lain (APL).
Selain fokus pada konservasi orangutan, Bupati juga menyampaikan bahwa ke depan Pemkab Ketapang berencana memperluas upaya pelestarian terhadap burung enggang dan burung ruai, yang merupakan ikon khas Kalimantan Barat.
“Burung enggang ini hanya tinggal nama saja, padahal menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kalbar. Sayangnya, kita belum punya kebun binatang atau taman konservasi khusus agar masyarakat bisa melihat langsung. Kita berharap YIARI dapat membantu memperluas program konservasi, tidak hanya untuk orangutan, tetapi juga untuk satwa-satwa endemik Kalimantan lainnya.”
“Saya sendiri di rumah memelihara baning, sejenis kura-kura darat yang hidup di pegunungan. Dari sana saya belajar, bahwa menjaga keseimbangan alam itu bukan hanya tugas lembaga, tapi tanggung jawab moral kita semua,” kata Bupati.
( yas)







